Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, 10 November 2018

    Dari sejarahnya sendiri pelabuhan Sunda Kelapa adalah salah satu pelabuhan tertua yang berdiri di Indonesia. Pada abad ke-5, Sunda Kelapa ada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara. Lalu, pada abad ke-12 berpindah kepemilikan di bahwa kekuasaan Kerajaan Sunda.Sampai sebelum abad ke-19, Pelabuhan Sunda Kelapa mengalami masa kejayaannya.

    Pemerintah Belanda melakukan revitalisasi pelabuhan dengan memperpanjang kanal yang tadinya sepanjang 810 meter menjadi 1.825 meter. Namun, seiring waktu berlalu, kedalaman air di Sunda Kelapa mengalami pendangkalan. Akibatnya, kapal-kapal dengan ukuran besar pun kesulitan untuk berlabuh. Sebagai gantinya, Belanda membangun sebuah pelabuhan baru yang memiliki kapasitas lebih besar dari Sunda Kelapa. Sekarang, kita mengenal pelabuhan itu dengan nama Tanjung Priok.

 

 

    Pada tanggal 10 November 2018 saya pergi ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Sunda Kelapa bukanlah sekadar pelabuhan saja. Dari pelabuhan berair hitam pekat inilah banyak  pekerjaan yang terdapat di Sunda Kelapa seperti nelayan, kuli angkut, dan juga penjaja jasa mengantar pengunjung berkeliling menaiki perahu kecilnya.
 

    Saat ingin masuk ke Sunda kelapa ada dua gerbang menuju Sunda Kelapa. Saya kira pelabuhan Sunda Kelapa tutup tetapi ada tertulis bahwa gerbang masuk utama pelabuhan ada di sebelah kanan dari gerbang pertama. Untuk memasuki kawasan Sunda Kelapa tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis.


    Hal yang membuat pelabuhan Sunda Kelapa menarik yaitu deretan kapal-kapal kayunya yang tersusun rapi. Banyak sekali orang-orang datang ke Sunda Kelapa hanya sekedar ingin berfoto saja. 

     

    Sebuah kapal Pinisi tengah menurunkan muatan barangnya dari kapal ke atas truk terbuka di Pelabuhan Sunda Kelapa  siang itu dengan memakai derek. Pinisi merupakan salah satu roda penggerak ekonomi di Pelabuhan Sunda Kelapa, yang telah beroperasi sejak tahun 1527 itu. Di pinisi itu juga buruh angkut pelabuhan menyandarkan hidup. Penisi sendiri merupakan salah satu kapal kayu tradisional yang cukup andal untuk berlayar di laut luas. Itu sebabnya sampai sekarang pinisi masih digunakan untuk membawa barang dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia.

         


    Barang barang tersebut merupakan kiriman dari luar pulau yang dikirim ke Jakarta melalui Pelabuhan Sunda Kelapa. Kegiatan menurunkan barang kiriman tersebut dilakukan oleh tenaga kuli pelabuhan. Hanya lelaki kuat perkasa yang bisa bertahan hidup dengan pekerjaan di Pelabuhan Sunda Kelapa yang begitu keras.

 

    Kesibukan bongkar muat barang tampak terlihat di sejumlah kapal lainnya di bawah langit Pelabuhan Sunda Kelapa yang panas terik. Tempat kapal sandar adalah kanal selebar 50 meter, dengan lekukan 150 meter. Di masa kolonial, kanal ini dikenal sebagai Havenkanaal atau kanal pelabuhan.


    kebanyakan yang bekerja sebagai pemandu wisata di sebuah kapal untuk parawisatawan yaitu dari mereka adalah  lelaki. Usianya beragam, ada yang muda hingga tua. Mereka duduk di atas kapal-kapal kayu yang tengah bersandar. Dari wajahnya yang sangar dan kulitnya yang hitam bisa menangkap bahwa kehidupan di pelabuhan tentu keras. Setiap harinya mereka harus berjibaku dengan panas matahari yang menyengat dan tubuh mereka tentu selalu dibanjiri oleh keringat.

 


    Saya dibawa untuk melihat geliat Sunda Kelapa dari atas air. Sambil angin semilir menerpa, saya harus membiasakan diri menghirup aroma air yang busuk semerbak. Pencemaran yang begitu masif di Jakarta pada akhirnya turut menjadikan Sunda Kelapa sebagai korban.

 

    Airnya menjadi hitam pekat dan beraroma busuk. Namun, sekalipun saya memandang air  ini dengan jijik, ada bocah-bocah yang begitu riang menceburkan dirinya. Mereka berenang, saling berkejaran satu sama lain tanpa ada perasaan khawatir ataupun jijik. Sesekali mereka berteriak, melambaikan tangan meminta difoto.

 


    Sekalipun penampakannya sederhana, tetapi kapal-kapal kayu ini tetap gagah dan perkasa mengarungi laut. Dalam satu kali pelayaran kapal-kapal ini bisa menempuh waktu berbulan-bulan. Kayu-kayunya begitu kuat, tak koyak dihantam gelombang di lautan lepas.

 

    Air yang butek bukan halangan bagi anak-anak untuk berenang. Kesehatan tidak lagi dihiraukan selama itu menyenangkan bagi mereka. Padahal, air tempat mereka renang terdiri dari endapan berbagai limbah. Ditambah dengan sampah yang bertebaran di air.

 


    Tidak ada taman bermain dan ruang terbuka nyaman yang seharusnya milik anak-anak. Anak-anak di daerah Pelabuhan Sunda Kelapa kerap memanfaatkan wisatawan untuk meminta uang. Imbalannya, mereka melakukan atraksi melompat atau mencari uang yang dilempar. Sangat dibutuhkan kebijaksanaan wisatawan dalam menyikapi fenomena itu, menyangkut keselamatan dari para bocah yang ada di sana dan memberi edukasi yang lebih positif untuk masyarakat kawasan wisata.

 

    Dengan ditetapkannya Sunda Kelapa sebagai objek wisata andalan DKI Jakarta, semakin banyak wisatawan yang datang berkunjung ke sini. Walaupun tujuan mereka tidak melulu untuk belajar dan mengenal sejarah Jakarta, tapi setidaknya kehadiran mereka turut menambah keramaian di Sunda Kelapa.

Comments

  1. Terima kasih artikelnya, sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  2. Keren sis ngambil fotonya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  3. Emang keren banget Sunda Kelapa tuh. Selain banyak kapal-kapal, banyak juga tumpukan kontainer yg bisa dijadiin spot foto yg instagramable. Tapi yg disayangkan itu ya limbahnya :( semoga ke depannya Sunda Kelapa bisa lebih bersih lagi dari sekarang

    ReplyDelete
  4. Wahhh.. fotonya keren banget. SUKA..

    ReplyDelete
  5. Wah kayaknya bagus nih tempatnya buat jalan-jalan nyari udara segar. Btw, asil fotonya bagus, nice article๐Ÿ‘

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rekomendasi Drama Korea Bertemakan Sekolah

Apa itu Politeknik Negeri Jakarta?

Rekomendasi Film Horor untuk Menemani Hari Hallowen